Sunday, 28 August 2016

Hama Lalat pada Budidaya Jamur


Hasil gambar
(http://mitra-jamur.com/wp/category/jamur-tiram/)

Dewasa ini, jamur menjadi sayuran yang paling digemari masyarakat. Tidak hanya didalam negeri, di luar negeripun jamur sangat digemari. Terdapat lebih dari 50 spesies jamur diantaranya merupakan jamur edibel yang telah dikomersialkan. Jamur ini dapat dijadikan salah satu sumber kontribusi devisa bagi negara.
Saat ini, jamur yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jamur yang bermanfaat untuk dikonsumsi dan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Jenis jamur yang umum dikonsumsi masyarakat adalah jamur tiram, jamur merang, jamur kuping, jamur kancing dan jamur shitake. Sedangkan jamur yang sering dimanfaatkan sebagai obat karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah timbulnya penyakit adalah jamur ling zhi dan maitake (Grifola frondosa).
Hama pada jamur yang dibudidayakan cepat atau lambat pasti akan selalu ada. Munculnya hama pada budidaya jamur, umumnya dipengaruhi oleh lima faktor utama yaitu kondisi udara, air, tanah, manusia serta penggunaan bibit jamur yang tidak sehat atau terbawa OPT. Dalam upaya antisipasi terhadap perkembangan OPT pada budidaya jamur, sebaiknya memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah kalancaran sirkulasi udara, kebersihan air, melakukan pasteurisasi yang sempurna, menjaga kebersihan pekerja dan kebersihan lingkungan di dalam maupun di luar kubung jamur.
Ada beberapa jenis OPT yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur, baik dari jenis hama maupun penyakit. Keberadaan hama pada jamur umumnya menyebabkan masalah karena dapat menimbulkan kerusakan antara lain di baglog, media tumbuh jamur, bibit jamur yang baru tumbuh, bahkan hama akan memakan miselium dan tubuh buah jamur sehingga batang jamur menjadi berlubang dan terpotong. Jamur yang ditanam akhirnya ada yang gagal tumbuh bahkan mati, dan akan mengakibatkan hasil panen jamur kurang maksimal. Disamping itu hama atau serangga hama dapat berperan sebagai vektor / pembawa penyakit seperti virus yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur budidaya.
Hama Lalat Lycoriella spp. Merupakan salah satu hama pada budidaya jamur yang termasuk ordo Diptera dan Family sciaridae. Biasanya hama ini masuk bersamaan dengan keluar masuknya pekerja, ventilasi atau lubang-lubang kecil yang tidak terdeteksi.
Gejala serangan ditandai dengan adanya hama dan larva di permukaan kompos dan pada sudut rak. Lalat menyimpan telur-telurnya diseluruh bagian media tanam, diatas tanah, dan diantara tanah pelapis dan kompos. Telur akan menetas dalam waktu kurang dari satu minggu. Lalat umumnya merusak miselium dan jamur dewasa. Jamur menjadi terpotong, berlubang-lubang sehingga tidak dapat dijual. Hama ini dapat juga menjadi inang pembawa hama lain seperti tungau, virus dan penyakit jamur lainnya.
Cara terbaik menanggulangi hama adalah dengan melakukan pencegahan. Ruang tumbuh jamur harus selalu dijaga dari parasit yang membusukkan jamur/fungi kompetitor yang tersedia. Oleh karena itu penerapan aturanhygiene pada budidaya jamur sangat penting dilakukan. Jika organism pengganggu dapat dideteksi saat stadia awal busidaya, biasanya kerusakannya dapat diatasi.
Beberapa aturan hygiene rutin yang harus diperhatikan anatara lain :
v  Mensterilkan wadah/alat setiap kali akan digunakan
v  Pintu dan jendeladalam kondisi tertutup atau dilapisi dengan kasa agar hama tidak masuk kubung
v  Kompos yang telah dipakai ditempatkan jauh dari lokasi budidaya
v  Menyingkirkan promordia yang tidak berkembang pada bedeng-bedeng penanaman jamur
v  Lantai kubung dijaga agar selalu bersih
v  Potongan tangkai jamur jangan ditingggalkan di ruang tumbuh jamur
v  Jangan memegang tubuh buah yang sakit saat memanen Tubuh buah yang sakit diambil dengan menggunakan tisu yang dibasahi alcohol kemudian dibuang
v  Rendam sepatu pada larutan desinfektan
v  Singkirkan substrat yang terkontaminasi
Prinsip pengendalian hama secara terpadu pada budidaya jamur yaitu Eksklusi ( pencegahan), Eradikasi (pemusnahan), Proteksi (perlindungan) dan Imunisasi (menjadikan lebih kebal). Eksklusi atau pencegahan merupakan proses mencegah masuknya inokulum pathogen/penyakit pada setiap tahap / proses budidaya jamur. Contohnya sanitasi kubung dan lingkungan sekitar, sterilisasi alat kerja, sterilisasi dan anitasi media dengan sempurna, pintu dan jendela kubung dilapisi kasa, dll. Eradikasi merupakan tindakan pemusnahan semua pathogen yang sudah terlanjur masuk pada tiap tahap budidaya jamur. Contohnya mecabut jamur yang telah terserang kemudian dibakar, menyemprot inokulum dengan bahan kimia, mebuang baglog yang telah terkontaminasi, secara mekanis mengambil dan mematikan hama yang ditemukan, dll. Proteksi merupakan tindakan melindungi jamur dengan berbagai perlakuan terhadap gangguan pathogen / penyebab penyakit. Contohnya member perlindungan terhadap jamur yang dibudidayakan dengan memanfaatkan fungi lain seperti Humicola insolens, mencari alternatif jenis strain jamur yang lebih tahan terhadap pathogen, dll.  Imunisasi merupakan tindakan membuat jamur lebih kebal terhadap gangguan pathogen/penyebab penyakit. Contohnya merakit strain jamur yang lebih tahan terhadap pathogen.

 Penulis: DAA. Pertiwi ( POPT Ahli Muda Dinas Pertanian DIY )
Sumber ; http://distan.jogjaprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=8486:hama-lalat-pada-budidaya-jamur&catid=41:artikel&Itemid=514 (Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementrian Pertanian)
Tanggal Artikel : Senin, 25 Januari 2016 
Disusun Oleh:
Inneke Ririn K. F
14/ 365765/ PN/ 13747
Praktikum DPKP A.3.2 Kelompok 3


PEMANFAATAAN TIK DALAM PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini menjadi faktor pesona dan daya tarik dan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat kita dalam dua dekade terakhir. Secara perspektif, pengaruh TIK menggambarkan bagaimana pengaruh perkembangan teknologi informasi dalam membentuk wajah sosial budaya masyarakat kita secara instant. Beragam inovasi yang ditawarkan para penyedia teknologi informasi makin memampatkan dimensi ruang dan waktu masyarakat pada skala global. Dalam sekejab orang-orang yang terpisah ribuan kilometer akhirnya dapat “bertemu” secara real time melalui media komunikasi, bahkan dengan penampakan wajah sekalipun. Sebagai contoh penggunaan Video Call via aplikasi Skype yang bisa kita pasang/install di samrtphone.          
Menangkap Angin Perubahan
            Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini merupakan bagian dari kebutuhan pokok yang harus wajib dirasakan dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat, selain kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, dan papan. Perkembangan TIK di bidang kelautan dan perikanan telah melecutkan gairah untuk menyalurkan energi positif penyuluh perikanan dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai pendamping sekaligus mitra pelaku utama/usaha perikanan. Perubahan pola budaya masyarakat seperti ini  mengharuskan penyuluh perikanan untuk beradaptasi demi efektifitas penyuluhan serta pemberdayaan masyarakat KP. Angin perubahan ini harus direspon secara cepat, tepat dan terarah oleh penyuluh perikanan dalam berbagai bentuk penggunaan aplikasi dan web berbasis IT sebagai media untuk mengakomodir segala keragaan data, berita, dan informasi lainnya terkait bidang perikanan.
    Berbagai macam kegiatan penyuluh perikanan yang sebelumnya jarang terpublikasi, kini bisa leluasa menyebarkannya. bahkan ada fenomena yang menarik, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tersebut bisa meningkatkan rasa percaya diri penyuluh perikanan. Dengan meningkatnya trend publikasi kegiatan penyuluh perikanan, mereka tidak lagi mudah dijatuhkan citranya oleh publik karena dianggap menganggur/tidak ada kegiatan. Lebih jauh lagi, iklim kompetisi yang positif antar penyuluh akan terbangun secara alamiah sebagai konsekuensi pemanfaatan TIK.
Pola Interaksi Antar Manusia yang Berubah.
           Metode penyuluhan dengan sasaran tidak harus melalui tatap muka. Teknologi internet telah merubah cara orang berkomunikasi. Metode penyuluhan berbasis TIK terus mengalami perkembangan seiring perkembangan zaman. Dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan bisa kita kombinasi teknologi audio/data, video/data, audio/video, dan internet. Internet merupakan alat komunikasi yang murah dimana memungkinkan terjadinya interaksi antara penyuluh dengan sasarannya baik perorangan maupun kelompok secara jarak jauh (E-Learning). Jika dilakukan efektif dan efisien, harapannya dapat diperoleh hasil yang lebih baik.
          Pendekatan metode penyuluhan berbasis TIK bisa menjadi sebuah pelecut atau faktor penyemangat agar penyuluh perikanan harus lebih update informasi tentang berbagai hal dibidang perikanan dibanding sasaran penyuluhannya, sekaligus sebagai opsi untuk meningkatkan kepercayaan dan posisi tawar, bahwa keberadaan kita ditengah mereka sangat dibutuhkan.
Sudahkah Penyuluh Perikanan Punya  e-mail Pribadi ?
            Email, merupakan kunci utama perubahan cara berkomunikasi. Dengan hanya mempunyai satu alamat email (Ymail, Gmail, dsb), kita dapat mengikuti berbagai model komunikasi yang ada di Internet. Beberapa model komunikasi yang bisa digunakan untuk kegiatan penyuluhan diantaranya :
1.   Forum (Kaskus, Tapatalk, dsb)
2.   Chatting ( Whatsapp, Line, dsb)
3.   Situs jejaring sosial (Facebook,Instagram Twitter, Vine, dsb)
4.   Blog Penyuluhan (Blogspot, Wordpress, dsb)
5.   Situs sharing file (Dropbox, Mediafire, Zippyshare, dsb)
6.   E-learning menggunakan Video/Teleconference (via Skype)
Fenomena Unik Pemanfaatan TIK oleh Masyarakat KP
          Masyarakat memang harus cermat juga dalam menyikapi berita dari media massa. Karena berita itu terkadang merupakan hasil kombinasi dari ilmiah, subjektif, dan dramatisir hasil ramuan penulisnya. Padahal kalau dikonfirmasikan kembali kepada sumbernya tidaklah seperti itu. Malah mungkin saja mereka dibuat terkerut dahinya ketika mengetahui dan membacanya.
Sebagai Contoh :
         Di suatu acara televisi lokal menyiarkan sebuah kegiatan tebar bibit ikan nilem (restocking) yang dilakukan oleh penyuluh perikanan bersama dinas terkait sebagai upaya menjaga populasi ikan tersebut dari kepunahan, Dalam waktu seketika ada media sosial (facebook/twitter) meneruskan dan mempublikasikan berita tersebut sehingga sampai ke suatu  daerah yang penduduknya tinggal disepanjang sungai yang telah ditebari ikan, Saking senangnya mengetahui hal tersebut, mereka beramai-ramai memasang jaring untuk menangkapnya. Alhasil, cita-cita mulia penyuluh perikanan untuk menjaga populasi ikan dari kepunahan kandas di tengah jalan akibat publikasi media sosial oleh oknum yang kurang bertanggung jawab.
Harapan Pemanfaatan TIK secara bijak dan manusiawi
         Ada bagian menarik dari buku Sherry Turkle berjudul  “Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age” yang mencoba menggambarkan bagaimana smartphone telah merusak hubungan antarmanusia. Menurut Turkle, masyarakat hari ini berkomunikasi melalui teks, media sosial dan email, tetapi kemampuan mereka untuk berhubungan dengan orang lain telah menurun secara substansial. Mereka gagal untuk mengembangkan empati, kecerdasan emosional atau ikatan sosial.
         Melalui  kegiatan penyuluhan perikanan bisa kita sisipi suatu materi untuk menggugah kesadaran sasaran penyuluhan kita agar selalu waspada terhadap dampak-dampak negatif pemanfaatan TIK, setidaknya secara tidak langsung, minimal kita sudah berkontribusi menjaga entitas budaya bangsa ini dari pengaruh globalisasi.
Semoga Bermanfaat ...!
Referensi:
1.  Turkle,Sherry. 2015. “Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age”   Penguin Publishing Group.
2.    Puspa,Nurita.2012.”Peranan Penting Teknologi Informasi dan Komunikasi”.
 online. http://nuritapuspasari.blogspot.com/  [diakses 16/1/16]
3.    Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan (http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/)
4.    Sudrajat, Sugito. 1998. “Sistem Informasi Manajemen”, Semarang. Tung, Khoe

      Kontributor :Mina Rifqi –Penyuluh Perikanan Kab. Temanggung, Jawa Tengah
       
Disusun Oleh:

Lalu Achmad Fikzi Rizqy 
14/365029/PN/13647
Praktikum DPKP A.3.2 Kelompok 3
Pengomposan Jerami Padi

Hasil gambar untuk pengomposan jerami padi

            Jerami padi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan limbah yang lain, misalnya ketebon jagung, daun ubi jalar, daun tebu, rending kacang tanah , dan biomas kedelai. Dengan demikian, jerami sangat baik digunakan sebagai sumber hara atau pupuk organik. Bahan organik ini merupakan bahan penyangga dan berfungsi untuk memperbaiki sifat-sifat fisika , kimia, dan biologi tanah. Tanah yang miskin bahan organik juga akan berkurang kemampuan daya menyangga pupuk anorganik, sehingga efisiensi pemupukan menurun karena sebagian besar pupuk akan hilang melalui pencucian, fiksasi atau penguapan dan sebagai akibatnya produktivitas menurun. Mengingat harga pupuk buatan yang semakin mahal dan kerusakan tanah akibat diolah dan diusahakan secara terus menerus , maka penggunaan bahan organik sangat besar, apalagi pada daerah-daerah tertentu bahan organik banyak tersedia. Manfaat penggunaan bahan organik untuk tanaman padi sawah telah banyak diteliti. Pemberian bahan organik pada lahan sawah dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Karena itu, peningkatan produktivitas padi perlu dipacu dengan penambahan bahan organik, seperti kompos jerami maupun pupuk kandang, dan sisa panen lainnya, dengan maksud mempertahankan/meningkatkan kesuburan tanah. 

Dalam suatu evaluasi litkaji Pengelolaan Tanamn Terpadu ( PTT ), pemberian kompos jerami mempunyai pengaruh positif terhadap hasil. Diperkirakan peningkatan hasil gabah sebesar 300 kg/ton kompos yang diberikan pada sawah irigasi.Disamping itu,petani-petani PTT yang memberikanbahan organik tanah dalam jumlah yang relatif tinggi dapat mengurangi pemakaian urea dan KCL dalam pemupukan. Secara umum, kandungan nutrisi hara dalam pupuk organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia, sehingga diperlukan dalam jumlah cukup banyak. Namun, pupuk organik yang telah dikomposkan dapat menyediakan hara dalam waktu yang lebihcepat dibandingkan dalam bentuk segar, karena selama proses pengomposan telah terjadiproses dekomposisi yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalam kondisi aerob maupun anaerob. Pengomposan merupakan proses biologisyang kecepatan prosesnya berbanding lurus dengan kecepatan akivitas mikrobadalam mendekomposisi limbah organik. Sedangkan kecepatan aktivitas mikroba sangat tergantung pada faktor lingkuungan yang mendukung kehidupannya. Jika kondisi lingkungan semakin mendekati kondisi optimum yang dibutuhkan oleh mikroba maka aktivitas mikroba semakin tinggi sehingga proses pengomposan semakin cepat. Begitu pula seballiknya, apabila kondisi lingkungan semamin jauh dari kondisi optimumnyamaka kecepatan proses dekomposisi semakin lambat atau bahkan berhenti sama sekali. Oleh karena itu faktor liingkungan pendukungkehidupan mikroba merupakan kkunci keberhasilan proses pengomposan. Faktor-faktor lingkungan yang dimaksud antara lain kadar air, aerasi , pH dan C/N. Kadar air yang ideal pada limbah padat yang dikomposkan adalah antara 50-60% dengan nilai optimum 55 %. Pada proses pengomposan , C/N yang ideal antara 20-40 dengan kondisi terbaik 30. Setelah proses pengomposan selesai C/N antara 10-20. Derajat keasaman (pH)sebaiknya dipertahankan untuk tidak melewati 8,5. 

Namun demikian, selama proses pengomposan akan menyebabkan tingkat kemasaman mendekati netral, yaitu antara PH 6-8,5. Pembuatan kompos jerami padi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu 1) ditumpuk dan dibalikan, 2) ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalikkan. 1) Pengomposan jerami dengan metode tumpukan dan pembalikan, bahan yang digunakan berupa bahan jerami segar atau jerami kering yang dilembabkan di taruh dalam bedengan secara berlapis. Tiap lapis bedengan dengan ketinggian lebih kurang 30 cm, kemudian ditaburi atau disiram dengan larutan dekomposer. Tumpukan jerami dibuat berlapis-lapis dengan ketinggian 1-1,5 m. Jerami dalam bedengan ditutup rapat dengan terpal dan setiap minggu dilakukan pembalikan. Apabila terlalu kering tumpukan jerami dibasahi dengan air. Jika memungkinnkan pem uatan kompos dilakukan di tempat yang teduh. Setelah 3 minggu kompos biasanya sudah matang yang ditandai dengan temperatur sudah konstan 40-50 derajat celcius, remah, dan berwarna coklat kehitaman. 2)Pengomposan jerami padi dengan metode ventilasi tanpa pembalikan, bahan jerami yang digunakan yaitu jerami segardigiling hingga berukuran 1-3 cm. Hasil gilingan jerami ditumpuk dalam lapisan setinggi 20 cm, lebar 1 m dan panjang 1 m untuk membentuk tumpukan kompos 1x1x1 m3 dengan volume bahan kompos sekitar 1 m3 (-500 kg ). Untuk menghindari jatuhnya tumpukan jerami maka dibuatkan pagar bambu ukuran 1x1x1 m3. Teknik aerasi pengomposan dengan cara ventilasi dibuat dengan cara menempatkan sarang bambu di dasar tumpukan jerami ( kurang lebih 30 cm di atas permukaan tanah )agar aersi bisa terjadi dari bawah menuju ke atas tumpukan jerami. 

Jerami ditumpuk secaara longgar untuk memperoleh aerasi yang baik. Tambahkan dekomposersecara merata di atas tumpukan. Selain itu tumpukan lagi jerami yang telah digiling di atas tumpukan tersebut setinggi 20 cm dan basahi air secara merata serta diinokulasi dengan mikrobayang berasal dari dekomposer. Demiian seterusnya hingga ketinggian tumpukan sekitar 1 m. Kompos ditutup dengan terpal/plastik untuk mempertahankan kelembaban dan meminimalkan evaporasi maupun kehhilangan amonia. Kompos akan meningkat panasnya dalam waktu 24-48 jam dan panas ini perlu dipertahankan pada suhu sekitar 50 derajat celciusatau lebih dan tidak dibalikkan.

Penulis : Sumardi
Sumber : http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/10753/pengomposan-jerami-padi
Tanggal Artikel : 10-08-2016

Disusun Oleh:
Obed Pukka Daniel Silalahi
15/378210/PN/14016
Praktikum DPKP A.3.2 Kelompok 3


PEMBUATAN KOMPOS LIMBAH KELAPA SAWIT

(Sumber : http://akbar.blog.ugm.ac.id/2013/04/07/teknik-pengomposan-tandan-kosong-kelapa-sawit)

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack.) berasal dari Nigeria. Meskipun demikian, ada yang menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya tanaman kelapa sawit hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini. Bahkan mampu memberikan hasil produksi per hektar yang lebih tinggi (Fauzi et al., 2002). Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial belanda pada tahun 1848. Ketika itu ada empat batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mauritus dan Amsterdam dan ditanam di Kebun Raya Bogor. Tanaman kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet, seorang Belgia yang telah belajar banyak tentang kelapa sawit di Afrika. Budidaya yang dilakukannya diikuti oleh K. Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di pantai timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunannya mencapai 5.123 ha. Indonesia mulai mengekspor minyak sawit pada tahun 1919 sebesar 576 ton ke negara-negara Eropa (Fauzi et al., 2002)

Pada umumnya kelapa sawit tumbuh rata-rata 20 – 25 tahun. Pada 3 tahun pertama disebut sebagai kelapa sawit muda, karena pada umur tersebut pohon kelapa sawit belum menghasilkan buah. Pohon kelapa sawit akan mulai berbuah pada umur 4 sampai enam tahun, dan pada usia tujuh tahun disebut sebagai periode matang (the mature periode) dimana pada saat itu tanaman mulai menghasilkan tandan buah segar (fresh fruit bunch). Pada usia 11 sampai 20 tahun pohon kelapa sawit akan mengalami penurunan produksi, dan biasanya pada usia 20 – 25 tahun tanaman kelapa sawit akan mati (Fauzi et al., 2002).

Semua komponen buah sawit dapat dimanfaatkan. Buah sawit memiliki daging dan biji sawit (kernel), dimana daging sawit dapat diolah menjadi CPO (crude palm oil), sedangkan buah sawit diolah menjadi PK (palm kernel). Ekstraksi CPO rata-rata 20 % sedangkan PK 2.5%. Sementara itu cangkang biji sawit dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar ketel uap (Fauzi et al., 2002).
Minyak sawit dapat dipergunakan untuk bahan makanan dan industri setelah melalui proses penyulingan, penjernihan dan penghilangan bau atau RBDPO (refine, bleached and Deodorized palm oil). Disamping itu dapat diuraikan untuk produksi minyak sawit padat (RBD stearin) dan untuk produksi minyak sawit cair (RBD olein). RBD olein terutama dipergunakan untuk pembuatan minyak goreng. Sedangkan RBD stearin dipergunakan untuk margarin dan shortening, disamping untuk bahan baku industri sabun dan deterjen. Pemisahan CPO dan PK dapat menghasilkan oleokimia dasar yang terdiri dari asam lemak dan gliserol. Secara keseluruhan proses penyulingan minyak sawit dapat menghasilkan 73 % olein, 21 % stearin, 5 % PFAD (Palm fatty Acid Distillate) dan 0,5 % buangan (Fauzi et al., 2002).

Proses pengolahan kelapa sawit menghasilkan produk ikutan berupa limbah kelapa sawit. Berdasarkan tempat pembentukannya limbah kelapa sawit dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu limbah perkebunan kelapa sawit dan limbah industri kelapa sawit. Limbah industri kelapa sawit adalah limbah yang dihasilkan pada proses pengolahan kelapa sawit. Limbah jenis ini digolongkan dalam tiga jenis yaitu limbah padat, limbah cair, dan limbah gas (Fauzi et al., 2002).
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan salah satu jenis limbah padat yang dihasilkan dalam industri minyak sawit. Jumlah TKKS ini cukup besar karena hampir sama dengan jumlah produksi minyak sawit mentah. Limbah tersebut belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Komponen terbesar dari TKKS adalah selulosa (40-60 %), disamping komponen lain yang jumlahnya lebih kecil seperti hemiselulosa (20-30 %), dan lignin (15-30 %) (Dekker, 1991). Salah satu alternatif pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit adalah sebagai pupuk organik dengan melakukan pengomposan (Fauzi et al., 2002).

Pengomposan adalah proses biologis dimana mikroorganisme mengkonversi material organik menjadi kompos. Pengomposan dinominasi oleh proses aerob atau proses yang membutuhkan oksigen. Mikroorganisme memakai O2 untuk mendapatkan energi dan nutrisi dari material organik. Dalam proses tersebut mereka menghasilkan karbon dioksida (CO2), air, panas, kompos dan bermacam-macam gas sebagai produk dari dekomposisi material organik. Berbagai macam transformasi biologis dan produk terjadi dalam proses pengomposan. Dilakukan oleh berbagai macam mikroorganisme, yang menghuni bermacam-macam lingkungan mikro. Meskipun mikroorganisme mendekomposisi beberapa material organik, mereka terus menciptakan senyawa organik baru dari produk hasil dekomposisi. Unsur seperti nitogen (N) dan sulfur (S) bergabung dengan unsur lain, berubah secara cepat diantara bentuk terlarut dan tidak terlarut. Bentuk unsur yang terlarut adalah ditujukan untuk digunakan oleh mikrobia atau kemungkinan terjadi pencucian. Proses kimia dan fisika yang lain juga terjadi, mempengaruhi porositas, kapasitas menahan air dan nutrisi, konduktivitas, pH, dan sifat lain yang mungkin berpengaruh baik dalam proses pengomposan atau potensi penggunaan dari produk hasil pengomposan (Stoffella dan Kahn, 2001).

Pengomposan adalah proses aerob, yang berarti dalam prosesnya membutuhkan udara. Bahkan udara mungkin lebih penting dari makanan bagi mikroorganisme, pada umumnya dalam tumpukan kompos, udara lebih dahulu habis daripada makanan. Jika tidak terdapat cukup udara, dekomposisi terjadi secara anaerob, yang merupakan hal buruk untuk dua alasan. Pertama, perosesnya lebih lambat daripada pengomposan secara aerob, dan kedua, beberapa produknya, seperti ammonia dan hidrogen sulfida menimbulkan bau busuk (Thompson K, 2007)

Oksigen disediakan pada material kompos melalui aerasi. Mekanisme aerasi dapat sangat efektif, tetapi tidak sempurna. Dalam kenyataan, sebagian dari proses dekomposisi juga terjadi secara anaerob (tanpa O2). Proses anaerob berperan pada keseluruhan dekomposisi dari material kompos. Tetapi, dekomposisi anaerob yang berlebihan tidak diinginkan selama pengomposan karena menghasilkan degradasi yang tidak sempurna dan bau (Miller, 1993). Menyediakan kondisi aerasi yang baik meminimalkan bau yang berhubungan dengan proses anaerob dan menyempurnakan dekomposisi dari produk degradasi anaerobik parsial seperti asam organik, yang dapat berperan pada fitotoksisitas ketika kompos digunakan (Stoffella dan Kahn, 2001).

Kondisi yang dianjurkan untuk pengomposan : Kondisi Batas yang layak : Rasio C/N 20/1- 40/1; Kelembaban 40-60 % ; Konsentrasi O2 1>5 % ; Ukuran Partikel 3-13 ; Ph 5,5 – 9,0 ; Temperatur 43-60 0 C; Batas yang dianjurkan : Rasio C/N 25/1- 30/1; Kelembaban 50-60 % ; Konsentrasi O2 jauh >5 % ; Ukuran Partikel bervariasi 2 ; Ph 6,5 – 8,0; Temperatur 54-60 0 C. 1 Rekomendasi untuk pengomposan cepat. Kondisi diluar batas tersebut dapat juga memberikan hasil yang baik; 2 Tergantung pada material yang digunakan, ukuran tumpukan, dan keadaan lingkungan (Rynk et al., 1992).

Dalam sistem pengomposan cepat (high-rate composting) yang diteliti oleh John R. Snell di Michigan State University, proses pengomposan dilakukan secara mekanis dalam rektor vertikal. Penelitiannya menunjukkan bahwa limbah padat pada tanah memberikan hasil pengomposan terbaik ketika rasio C/N dalam reaktor berada dibawah kisaran 50/1, pH di dalam reaktor dipertahankan pada kisaran 5.5 – 8.0, dengan kelembaban diantara 50 – 60%. inokulum mikrobia terbaik yang digunakan sebagai aktivator berasal dari kompos matang, jumlahnya antara 2 – 10% dari limbah padat yang dikomposkan.

Kompos yang berada di dalam reaktor diaduk secara terus-menerus agar mendapat udara dengan baik. Udara ditiupkan ke dalam reaktor untuk menjaga supply oksigen bagi mikroorganisme. Temperatur dikontrol untuk memaksimalkan pertumbuhan mikroorganisme. Professor Snell menemukan bahwa proses pengomposan selesai ketika sudah tidak ada peningkatan temperatur yang signifikan, tidak ada lagi kandungan nitrogen yang hilang, dan kompos tidak menghasilkan bau yang menyengat (McKinney, 2004). Sistem high-rate composting tersebut tidak cocok jika diterapkan dalam skala intustri, karena biaya yang dibutuhkan untuk proses pengomposan akan sangat besar.
Parameter psikokhemis untuk kompos yang sudah matang sangat bervariasi. Yang paling penting adalah: pH (7.5 – 7.8); kelembaban (55 – 65%); kandungan residu kering (35 – 45%); kandungan abu (15 – 25%); total nitrogen ( 2 – 3%); kandungan ammonia (1.5 – 1.8%); kandungan nitrat (1 – 2%); total fosfor (2.5 – 3%); total potassium (1 – 1.2%); rasio C/N (20 – 30). Kandungan unsur mikro sebagai berikut: Cu (3–3.6), Zn (40–50), Co (0.05–0.1), Mn (40–45), dan Fe (100) (Neklyudov, A. D. et al., 2008).

Pada proses pengomposan tandan kosong kelapa sawit yang dilakukan di sebagian besar industri sawit, hal pertama yang dilakukan adalah pencacahan. TKKS dicacah terlebih dahulu menjadi serpihan-serpihan dengan memakai mesin pencacah. Kemudian bahan yang telah dicacah ditumpuk memanjang dengan ukuran lebar sekitar 2,5 meter dan tinggi 1 meter. Selama proses pengomposan tumpukan tersebut disiram dengan limbah cair yang berasal dari pabrik kelapa sawit. Pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton tandan buah segar per jam dapat memproduksi 60 ton kompos dari 100 ton tandan kosong sawit yang dihasilkan (Fauzi et al., 2002).

Proses pengomposan akan berlangsung dalam waktu 1,5 – 3 bulan. Kompos yang sudah matang dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut: Terjadi perubahan warna menjadi coklat kehitaman; Suhu sudah turun dan mendekati suhu pada awal proses pengomposan; Jika diremas, TKKS mudah dihancurkan atau mudah putus serat-seratnya; Pengamatan secara kimia ditunjukkan dengan rasio C/N yang sudah turun. Rasio C/N awal TKKS berkisar antara 50-60. Setelah proses pengomposan rasio C/N akan turun dibawah 25. Apabila rasio C/N lebih tinggi dari 25 proses pengomposan belum sempurna. Pengomposan perlu dilanjutkan kembali sehingga rasio C/N di bawah 25 (Isroi, 2008).

Salah satu parameter penting dalam mempercepat proses pengomposan adalah ketersediaan O2. Pada sistem pengomposan, supply O2 dipenuhi melalui mekanisme aerasi. Aliran udara pada sistem pengomposan perlu dipertahankan pada 10 dan 30 cf/hari/lb vs muatan awal dari limbah padat yang dikomposkan. Terlalu sedikit aerasi menyebabkan kondisi anaerob terjadi, memperlambat proses pengomposan. Terlalu banyak aeasi akan menyebabkan kompos menjadi kering dan menghambat/menghentikan metabolisme. Kelembaban optimal pada kompos adalah diantara 55% dan 69% (McKinney, 2004).

Hal penting yang perlu diketahui dalam setiap proses pengomposan adalah selalu ada batas maksimal mengenai kecepatan proses pengomposan suatu material organik. Jika batas maksimal tersebut telah dicapai, perlakuan apapun yang diberikan terhadap sistem kompos tidak akan dapat mempercepat laju proses pengomposan.

Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Madya Pusluhtan BPPSDMP
Email : agussutarman56@gmail.com
Sumber : http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/8874/pembuatan-kompos-limbah-kelapa-sawit
Tanggal Artikel : 21-08-2014

Disusun Oleh:
Olivia Mutiara Larasati
15/383452/PN/14283
Praktikum DPKP A.3.2 Kelompok 3