Pengomposan Jerami Padi
Jerami padi memiliki beberapa
keunggulan dibandingkan limbah yang lain, misalnya ketebon jagung, daun ubi
jalar, daun tebu, rending kacang tanah , dan biomas kedelai. Dengan demikian,
jerami sangat baik digunakan sebagai sumber hara atau pupuk organik. Bahan
organik ini merupakan bahan penyangga dan berfungsi untuk memperbaiki sifat-sifat
fisika , kimia, dan biologi tanah. Tanah yang miskin bahan organik juga akan
berkurang kemampuan daya menyangga pupuk anorganik, sehingga efisiensi
pemupukan menurun karena sebagian besar pupuk akan hilang melalui pencucian,
fiksasi atau penguapan dan sebagai akibatnya produktivitas menurun. Mengingat
harga pupuk buatan yang semakin mahal dan kerusakan tanah akibat diolah dan
diusahakan secara terus menerus , maka penggunaan bahan organik sangat besar,
apalagi pada daerah-daerah tertentu bahan organik banyak tersedia. Manfaat
penggunaan bahan organik untuk tanaman padi sawah telah banyak diteliti.
Pemberian bahan organik pada lahan sawah dapat memperbaiki sifat fisik tanah.
Karena itu, peningkatan produktivitas padi perlu dipacu dengan penambahan bahan
organik, seperti kompos jerami maupun pupuk kandang, dan sisa panen lainnya,
dengan maksud mempertahankan/meningkatkan kesuburan tanah.
Dalam suatu evaluasi
litkaji Pengelolaan Tanamn Terpadu ( PTT ), pemberian kompos jerami mempunyai
pengaruh positif terhadap hasil. Diperkirakan peningkatan hasil gabah sebesar
300 kg/ton kompos yang diberikan pada sawah irigasi.Disamping itu,petani-petani
PTT yang memberikanbahan organik tanah dalam jumlah yang relatif tinggi dapat
mengurangi pemakaian urea dan KCL dalam pemupukan. Secara umum, kandungan
nutrisi hara dalam pupuk organik tergolong rendah dan agak lambat tersedia,
sehingga diperlukan dalam jumlah cukup banyak. Namun, pupuk organik yang telah
dikomposkan dapat menyediakan hara dalam waktu yang lebihcepat dibandingkan
dalam bentuk segar, karena selama proses pengomposan telah terjadiproses
dekomposisi yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba, baik dalam kondisi
aerob maupun anaerob. Pengomposan merupakan proses biologisyang kecepatan
prosesnya berbanding lurus dengan kecepatan akivitas mikrobadalam
mendekomposisi limbah organik. Sedangkan kecepatan aktivitas mikroba sangat
tergantung pada faktor lingkuungan yang mendukung kehidupannya. Jika kondisi
lingkungan semakin mendekati kondisi optimum yang dibutuhkan oleh mikroba maka
aktivitas mikroba semakin tinggi sehingga proses pengomposan semakin cepat.
Begitu pula seballiknya, apabila kondisi lingkungan semamin jauh dari kondisi
optimumnyamaka kecepatan proses dekomposisi semakin lambat atau bahkan berhenti
sama sekali. Oleh karena itu faktor liingkungan pendukungkehidupan mikroba
merupakan kkunci keberhasilan proses pengomposan. Faktor-faktor lingkungan yang
dimaksud antara lain kadar air, aerasi , pH dan C/N. Kadar air yang ideal pada
limbah padat yang dikomposkan adalah antara 50-60% dengan nilai optimum 55 %.
Pada proses pengomposan , C/N yang ideal antara 20-40 dengan kondisi terbaik
30. Setelah proses pengomposan selesai C/N antara 10-20. Derajat keasaman
(pH)sebaiknya dipertahankan untuk tidak melewati 8,5.
Namun demikian, selama
proses pengomposan akan menyebabkan tingkat kemasaman mendekati netral, yaitu
antara PH 6-8,5. Pembuatan kompos jerami padi dapat dilakukan dengan 2 cara,
yaitu 1) ditumpuk dan dibalikan, 2) ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalikkan.
1) Pengomposan jerami dengan metode tumpukan dan pembalikan, bahan yang
digunakan berupa bahan jerami segar atau jerami kering yang dilembabkan di
taruh dalam bedengan secara berlapis. Tiap lapis bedengan dengan ketinggian
lebih kurang 30 cm, kemudian ditaburi atau disiram dengan larutan dekomposer.
Tumpukan jerami dibuat berlapis-lapis dengan ketinggian 1-1,5 m. Jerami dalam
bedengan ditutup rapat dengan terpal dan setiap minggu dilakukan pembalikan.
Apabila terlalu kering tumpukan jerami dibasahi dengan air. Jika memungkinnkan
pem uatan kompos dilakukan di tempat yang teduh. Setelah 3 minggu kompos
biasanya sudah matang yang ditandai dengan temperatur sudah konstan 40-50
derajat celcius, remah, dan berwarna coklat kehitaman. 2)Pengomposan jerami
padi dengan metode ventilasi tanpa pembalikan, bahan jerami yang digunakan
yaitu jerami segardigiling hingga berukuran 1-3 cm. Hasil gilingan jerami
ditumpuk dalam lapisan setinggi 20 cm, lebar 1 m dan panjang 1 m untuk
membentuk tumpukan kompos 1x1x1 m3 dengan volume bahan kompos sekitar 1 m3
(-500 kg ). Untuk menghindari jatuhnya tumpukan jerami maka dibuatkan pagar
bambu ukuran 1x1x1 m3. Teknik aerasi pengomposan dengan cara ventilasi dibuat
dengan cara menempatkan sarang bambu di dasar tumpukan jerami ( kurang lebih 30
cm di atas permukaan tanah )agar aersi bisa terjadi dari bawah menuju ke atas
tumpukan jerami.
Jerami ditumpuk secaara longgar untuk memperoleh aerasi yang
baik. Tambahkan dekomposersecara merata di atas tumpukan. Selain itu tumpukan
lagi jerami yang telah digiling di atas tumpukan tersebut setinggi 20 cm dan
basahi air secara merata serta diinokulasi dengan mikrobayang berasal dari
dekomposer. Demiian seterusnya hingga ketinggian tumpukan sekitar 1 m. Kompos
ditutup dengan terpal/plastik untuk mempertahankan kelembaban dan meminimalkan
evaporasi maupun kehhilangan amonia. Kompos akan meningkat panasnya dalam waktu
24-48 jam dan panas ini perlu dipertahankan pada suhu sekitar 50 derajat
celciusatau lebih dan tidak dibalikkan.
Penulis : Sumardi
Sumber : http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/10753/pengomposan-jerami-padi
Tanggal Artikel : 10-08-2016
Disusun Oleh:
Obed Pukka Daniel Silalahi
15/378210/PN/14016
Praktikum DPKP A.3.2 Kelompok 3
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteNilai penyuluhan yang terdapat:
ReplyDelete1. Sumber teknologi atau ide : ada teknologi di paragraf 3 dan 4 yaitu tentang pembuatan pupuk kompos dengan 2 metode yaitu ditumpuk dan dibalikkan serta ditumpuk dengan ventilasi tanpa dibalikkan. Ide yang terkandung dalam artikel tersebut adalah penggunaan pupuk kompos dari jerami padi sebagai pengganti pupuk anorganik.
2. Sasaran : sasaran yang dituju dari artikel ini adalah para petani yang masih menggunakan pupuk anorganik dalam budidaya tanaman.
3. Manfaat :dengan menggunakan pupuk kompos dalam budidaya tanaman dapat memperbaiki kualitas fisika, kimia, dan biologi tanah, meningkatkan produktifitas tanaman, menambah unsur hara didalam tanah,dan menghemat pengeluaran mengingat harga pupuk anorganik yang semakin mahal.
4. Nilai pendidikan : ide dan tekonologi dalam mengganti pupuk anorganik dengan pupuk kompos yang berasal dari jerami padi sangatlah bagus dan menarik untuk dipelajari semua pihak yang berhubungan erat dengan bidang pertanian mengingat banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dari penggunaan pupuk kompos ini.