PEMANFAATAAN TIK DALAM PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini menjadi
faktor pesona dan daya tarik dan menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat kita
dalam dua dekade terakhir. Secara perspektif, pengaruh TIK menggambarkan
bagaimana pengaruh perkembangan teknologi informasi dalam membentuk wajah
sosial budaya masyarakat kita secara instant. Beragam inovasi yang ditawarkan
para penyedia teknologi informasi makin memampatkan dimensi ruang dan waktu
masyarakat pada skala global. Dalam sekejab orang-orang yang terpisah ribuan
kilometer akhirnya dapat “bertemu” secara real time melalui media komunikasi,
bahkan dengan penampakan wajah sekalipun. Sebagai contoh penggunaan Video Call
via aplikasi Skype yang bisa kita pasang/install di
samrtphone.
Menangkap Angin Perubahan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
saat ini merupakan bagian dari kebutuhan pokok yang harus wajib dirasakan dan
dinikmati manfaatnya oleh masyarakat, selain kebutuhan pokok seperti pangan,
sandang, dan papan. Perkembangan TIK di bidang kelautan dan perikanan telah
melecutkan gairah untuk menyalurkan energi positif penyuluh perikanan dalam
rangka menjalankan fungsinya sebagai pendamping sekaligus mitra pelaku
utama/usaha perikanan. Perubahan pola budaya masyarakat seperti ini
mengharuskan penyuluh perikanan untuk beradaptasi demi efektifitas
penyuluhan serta pemberdayaan masyarakat KP. Angin perubahan ini harus direspon
secara cepat, tepat dan terarah oleh penyuluh perikanan dalam berbagai bentuk
penggunaan aplikasi dan web berbasis IT sebagai media untuk mengakomodir segala
keragaan data, berita, dan informasi lainnya terkait bidang perikanan.
Berbagai macam kegiatan penyuluh
perikanan yang sebelumnya jarang terpublikasi, kini bisa leluasa
menyebarkannya. bahkan ada fenomena yang menarik, pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) tersebut bisa meningkatkan rasa percaya diri
penyuluh perikanan. Dengan meningkatnya trend publikasi kegiatan penyuluh
perikanan, mereka tidak lagi mudah dijatuhkan citranya oleh publik karena
dianggap menganggur/tidak ada kegiatan. Lebih jauh lagi, iklim kompetisi yang
positif antar penyuluh akan terbangun secara alamiah sebagai konsekuensi
pemanfaatan TIK.
Pola Interaksi Antar Manusia yang Berubah.
Metode penyuluhan dengan
sasaran tidak harus melalui tatap muka. Teknologi internet telah merubah cara
orang berkomunikasi. Metode penyuluhan berbasis TIK terus mengalami
perkembangan seiring perkembangan zaman. Dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan
bisa kita kombinasi teknologi audio/data, video/data, audio/video, dan
internet. Internet merupakan alat komunikasi yang murah dimana memungkinkan
terjadinya interaksi antara penyuluh dengan sasarannya baik perorangan maupun
kelompok secara jarak jauh (E-Learning). Jika dilakukan efektif dan efisien,
harapannya dapat diperoleh hasil yang lebih baik.
Pendekatan metode penyuluhan berbasis TIK bisa menjadi sebuah pelecut atau
faktor penyemangat agar penyuluh perikanan harus lebih update informasi tentang
berbagai hal dibidang perikanan dibanding sasaran penyuluhannya, sekaligus
sebagai opsi untuk meningkatkan kepercayaan dan posisi tawar, bahwa keberadaan
kita ditengah mereka sangat dibutuhkan.
Sudahkah Penyuluh Perikanan Punya e-mail Pribadi ?
Email, merupakan kunci utama perubahan cara berkomunikasi. Dengan hanya
mempunyai satu alamat email (Ymail, Gmail, dsb), kita dapat mengikuti berbagai
model komunikasi yang ada di Internet. Beberapa model komunikasi yang bisa
digunakan untuk kegiatan penyuluhan diantaranya :
1. Forum (Kaskus,
Tapatalk, dsb)
2. Chatting ( Whatsapp,
Line, dsb)
3. Situs jejaring sosial
(Facebook,Instagram Twitter, Vine, dsb)
4. Blog Penyuluhan
(Blogspot, Wordpress, dsb)
5. Situs sharing file
(Dropbox, Mediafire, Zippyshare, dsb)
6. E-learning
menggunakan Video/Teleconference (via Skype)
Fenomena Unik Pemanfaatan TIK oleh Masyarakat KP
Masyarakat memang harus cermat juga dalam menyikapi berita dari media massa.
Karena berita itu terkadang merupakan hasil kombinasi dari ilmiah, subjektif,
dan dramatisir hasil ramuan penulisnya. Padahal kalau dikonfirmasikan kembali
kepada sumbernya tidaklah seperti itu. Malah mungkin saja mereka dibuat
terkerut dahinya ketika mengetahui dan membacanya.
Sebagai Contoh :
Di suatu
acara televisi lokal menyiarkan sebuah kegiatan tebar bibit ikan nilem
(restocking) yang dilakukan oleh penyuluh perikanan bersama dinas terkait
sebagai upaya menjaga populasi ikan tersebut dari kepunahan, Dalam waktu
seketika ada media sosial (facebook/twitter) meneruskan dan mempublikasikan
berita tersebut sehingga sampai ke suatu daerah yang penduduknya tinggal
disepanjang sungai yang telah ditebari ikan, Saking senangnya mengetahui hal
tersebut, mereka beramai-ramai memasang jaring untuk menangkapnya. Alhasil,
cita-cita mulia penyuluh perikanan untuk menjaga populasi ikan dari kepunahan
kandas di tengah jalan akibat publikasi media sosial oleh oknum yang kurang
bertanggung jawab.
Harapan Pemanfaatan TIK secara bijak dan manusiawi
Ada bagian
menarik dari buku Sherry Turkle berjudul “Reclaiming Conversation:
The Power of Talk in a Digital Age” yang mencoba menggambarkan
bagaimana smartphone telah merusak hubungan antarmanusia. Menurut Turkle,
masyarakat hari ini berkomunikasi melalui teks, media sosial dan email, tetapi
kemampuan mereka untuk berhubungan dengan orang lain telah menurun secara
substansial. Mereka gagal untuk mengembangkan empati, kecerdasan emosional atau
ikatan sosial.
Melalui kegiatan penyuluhan perikanan bisa kita sisipi suatu materi untuk
menggugah kesadaran sasaran penyuluhan kita agar selalu waspada terhadap dampak-dampak
negatif pemanfaatan TIK, setidaknya secara tidak langsung, minimal kita sudah
berkontribusi menjaga entitas budaya bangsa ini dari pengaruh globalisasi.
Semoga Bermanfaat ...!
Referensi:
1. Turkle,Sherry.
2015. “Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age” Penguin Publishing Group.
2.
Puspa,Nurita.2012.”Peranan Penting Teknologi Informasi dan Komunikasi”.
online. http://nuritapuspasari.blogspot.com/ [diakses
16/1/16]
3. Kamus Besar
Bahasa Indonesia dalam Jaringan (http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/)
4. Sudrajat,
Sugito. 1998. “Sistem Informasi Manajemen”, Semarang. Tung, Khoe
Kontributor :Mina Rifqi –Penyuluh Perikanan Kab. Temanggung, Jawa Tengah
Disusun Oleh:
Lalu Achmad Fikzi Rizqy
14/365029/PN/13647
Praktikum DPKP A.3.2 Kelompok 3

Penganalisis :
ReplyDeleteIntan Dewi Setyarini
14/367523/PN/13859
A. Analisis
Ide : Penggunaan TIK dalam penyuluhan kelautan dan perikanan
Sasaran : Penyuluh kelautan dan perikanan juga untuk petani guna mengetahui adanya perangkat TIK yang akan mendukung proses penyuluhan
Manfaat : Dengan memanfaatkan tehnologi TIK maka lebih memudahkan dalam hal penyuluhan, dan denga publikasi yang baik maka para penyuluh tidak lagi dianggap menganggur oleh publik (sesuai dalam paragraf 3 baris ke 5)
B. Nilai yang terkandung :
1. Timelines : berita yang disampai kan cukup baru karena menyikapi pola perkembangan dan majunya tehnologi yang saat ini menjamur dikalangan masyarakat baik dikalangan muda maupun tua dimana masyarakat lebih sering berkomunikasi menggunakan perangkat elektronik.
2. Proximity : tulisan yang disampaikan dekat dengan penyuluh karena para penyuluh akan mudah menjangkau banyak kalangan dan tulisan ini juga dekat dengan para petani karena petani kini dapat mengakses materi melalui internet, web dan lain sebagainya.
3. Importance : tulisan tersebut mengandung banyak informasi yang dibutuhkan terutama untuk para penyuluh
C. Pendapat Berita
Dalam berita ini telah di informasikan bahwa berbagai macam kegiatan penyuluh perikanan yang sebelumnya jarang terpublikasi, kini bisa leluasa menyebarkannya. Bahkan ada fenomena yang menarik, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) karena dapat meningkatkan rasa percaya diri penyuluh. Namun menurut pendapat saya, penyuluhan yang dilakukan secara jarak jauh baik menggunakan web, sms, ataupun chatting hanya merupakan media penambah dan pemermudah dalam hal penyuluhan. Penyuluh juga harus tetap terjun ke masyarakat guna mendapatkan empati dari masyarakat selain itu agar masyarakat jauh lebih menghargai penyuluh. Karena ditakutkan jika hanya melihat diinternet para pembaca dalam hal ini para pelaku perikanan dan kelautan hanya sekedar membaca tanpa mengambil inti sari topik materi yang diberikan.
Selain itu harus melihat lokasi tempat penyuluh berada, karena tidak semua tempat penyuluhan yang dapat menerima dengan mudah materi penyuluhan dengan menggunakan tehnologi seperti ini. Perlu diketahui bahwa banyak daerah di Indonesia yang masyarakatnya belum terlalu bisa memanfaatkan tehnologi, seperti didaerah desa pada para petani ataupun nelayan yang sudah tua. Namun tehnologi ini juga baik jika dimanfaatkan terutama untuk kalangan muda sehingga dapat mengeksplorasi usahanya dibidang perikanan kelautan lebih dalam dengan membaca materi – materi yang disampaikan penyuluh melaui TIK ini. Tetap saja perlu kebijaksaan untuk menyikapi informasi yang diberikan.
-Intan Dewi Setyarini-